Sign Up Salamuna | Islamic Social Network-helps you connect and share with the people in your life.

Antara Maulid & Valentine

Antara Maulid & Valentine
Rasulullah SAW membenarkan penentuan suatu hari atau tanggal untuk dijadikan moment memperingati suatu kejadian baik yang berhubungan dengan tanggal atau hari itu. Bahkan, selain ‘Asyura, beliau juga menjadikan hari Senin untuk memperingati hari kelahiran beliau, maka beliaupun berpuasa setiap hari Senin.
Berangkat dari kesimpulan ini maka kemudian masyarakat muslim di berbagai negeri menentukan beberapa hari untuk peringatan-peringatan tertentu, misalnya peringatan Maulid Rasulullah SAW, Isra’ Mi’raj, hari ulang tahun kemerdekaan atau hari jadi sebuah kerajaan dan sebagainya. Peringatan itu sebenaran kalimat lain dari “mengingat suatu nikmat dan bersyukur pada Allah SWT atas nikmat itu”.
Orang yang tidak paham dengan hal ini sering bertanya, “mengapa acara Maulid Rasulullah SAW hanya diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul awal saja, bukankah itu berarti membatasi syukur hanya pada hari itu?”. Sebenarnya pertanyaan ini lebih pantas diajukan pada Rasulullah SAW, mengapa beliau hanya berpuasa di hari senin saja untuk mensyukuri kelahiran beliau. Pertanyaan ini hanyalah timbul dari ketidakpahaman saja, sehingga pertanyaan itupun diajukan dengan nada dan maksud protes.
Kenyataan membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya puasa di hari Senin, Rasulullah SAW juga puasa di hari kamis, bahkan beliau juga sering berpuasa di hari-hari biasa yang lain. Maka penentuan hari Senin itu hanya lebih bersifat pembuatan moment. Artinya, bila bermaksud istiqamah puasa mingguan maka memilih hari kelahiran lebih pas untuk menciptakan sebuah moment. Maka memilih hari Senin untuk beristiqamah puasa bukan berarti hanya mau bersyukur di hari itu saja. Demikian pula dengan peringatan yang lain, misalnya Maulid Rasulullah SAW, ketika kita bermaksud beristiqamah memperingatinya secara khusus yang bersifat setahun sekali maka memilih tanggal 12 Rabi’ul awal adalah sangat pas untuk menciptakan sebuah moment. Maka memilih tanggal 12 Rabi’ul awal untuk beristiqamah memperingati Maulid Rasulullah SAW secara khusus bukan berarti hanya mau mensyukuri Rasulullah SAW pada hari itu saja.
Menerima kebiasaan dan budaya bangsa non muslim juga sering dilakukan oleh Rasulullah SAW, misalnya ketika perang Khandaq, Khandak artinya parit, karena pada perang itu kaum muslimin membuat parit untuk menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Pembuatan parit itu dilakukan atas ide Shahabat Slaman Al-Farisi (orang Persia), ide itu beliau ajukan kepada Rasulullah SAW dengan merujuk pada kebiasaan orang-orang Persia yang waktu itu beragama Majusi, bahwa demikianlah mereka bertaktik ketika menghadapi pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar.
Tampil beda dari golongan “bathil”.
Dalam “riwayat ‘Asyura” kita dapat meyimpulkan bahwa Rasulullah SAW sangat menekankan pada kita agar kita tampil beda dengan golongan bathil. Puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebenarnya seratus persen benar, namun ketika puasa itu telah dikenal sebagai budaya mereka maka Rasulullah SAW berusaha untuk “tampil beda” agar tidak dianggap “tidak beda” dengan mereka. Pertanyaannya adalah “mengapa Rasulullah SAW berusaha berbeda dengan Yahudi, apa hanya karena lain agama?” Tidak, melainkan karena Rasulullah SAW menganggap orang-orang Yahudi itu pengkhianat, mereka mengkhianati agama mereka sendiri, mengkhianati Nabi mereka sendiri, mengkhianati kitab mereka sendiri, yaitu dengan menghapus nama “Ahmad” dari kitab mereka. Maka “tampil beda” itu merupakan bentuk ungkapan “ketidaksetujuan” pada pengkhianatan mereka, dari itu Rasulullah SAW berkata: “Kita lebih layak untuk menghormati Musa daripada orang-orang Yahudi.” Karena kita lebih menghargai Nabi Musa AS dan ajaran beliau daripada orang-orang Yahudi sendiri.
Sebagaimana “’Asyura” dimulai dan dipopulerkan oleh orang Yahudi, maka hari Valentine dimulai dan dipopulerkan oleh orang Nasrani. Peringatan Valentine diawali dengan bentuk penghormatan orang Nasrani pada tokoh agama mereka yang bernama Santo Valentino, seorang Pastur yang hidup di Romawi pada abad 17 masehi. Tokoh ini sangat diagungkan oleh orang Nasrani dan dijadikan simbol wujud kasih sayang, yang mana “kasih sayang” adalah “motto” bagi agama Nasrani. Kemudian mereka membuat sebuah moment yang disebut dengan hari “kasih sayang”, dan dijadikanlah nama dan hari kematian tokoh itu untuk “hari kasih sayang” tersebut, yaitu nama “Valentine” dan tanggal “14 Februari”.
Dengan demikian, dalam hal asal muasal, berarti ada dua kesamaan antara “hari ‘Asyura” dan “hari Valentine”. Pertama, sama-sama dimulai dan dipopulerkan oleh Ahlul-kitab, karena Ahlul-kitab itu adalah orang Yahudi dan Nasrani. Kedua, sama-sama dijadikan sebagai hari peringatan “baik”, kalau ‘Asyura untuk bersyukur dengan puasa sedangkan Valentine untuk menonjolkan simbol-simbol kasih sayang.
Namun, selain ada dua persamaan, antara ‘Asyura dan Valentine ada satu perbedaan, dan walaupun point perbedaannya lebih sedikit dari point persamaannya, namun perbedaan itu sangat tajam karena berhubungan dengan aqidah, sehingga perbedaannya mengalahkan kedua persamaannya. Perbedaan itu terletak pada tokoh yang menjadi “simbol” dalam kedua hari “peringatan” itu. Kalau ‘Asyura dalam rangka menghormati Nabi Musa, maka aqidah Islam justru menghormati dan membenarkan status Nabi itu. Akan tetapi Valentin untuk menghormati seorang Pastur, maka jelas “kepercayaan” (aqidah) Islam menentang “kebenaran” Pastur itu.
Bagi ummat Islam, mempertahankan “kemandirian” aqidah itu harus dilakukan, bahkan setiap agama pasti mendoktrin pengikutnya untuk demikian. Maka ummat Islam tidak perlu sungkan untuk menolak Valentin, sebagaimana mereka tidak perlu sungkan menolak ucapan “Hari Natal”, karena orang Nasrani akan memaklumi bahwa ini adalah masalah aqidah. Kalau ada orang Nasrani yang belum mengerti masalah ini, maka kita harus menjelaskan bahwa setiap agama, termasuk Nasrani, mendoktrin pemeluknya untuk tidak terlibat dengan kegiatan agama lain yang bersifat ritual atau penghormatan pada tokoh agama. Sebagaimana kita tidak akan mengajak apalagi memaksa mereka untuk ikut lebaran atau Maulidan, kita tidak menyalahkan mereka kalau mereka tidak mengucapkan “selamat idul-fitri” atau tidak menyanjung Nabi Muhammad SAW, karena semua itu memang bertentangan dengan aqidah mereka, maka demikian juga mereka akan memaklumi dan tidak meminta apalagi memaksa kita untuk ikut natal-an atau valentine-an.
Kesimpulannya, merayakan Valentine, bagi ummat Islam, adalah haram, dan apabila dibarengi dengan meyakini “kebenaran” tokoh Valentine maka hukumnya bukan lagi sekedar haram, tapi “kafir”! Sebagaimana meyakini kebenaran Muhammad menurut agama “Nasrani” dan “Yahudi” adalah “kafir”.

ANTARA VALENTINE DAN HARI KASIH SAYANG

Kita harus membedakan atara hari kasih sayang dengan hari Valentine. Telah di jelaskan bahwa Islam menerima yang baik dari budaya lain, maka, pada dasarnya, Islam juga sangat menerima dengan moment hari kasih sayang. Membuat peringatan “hari kasih sayang” adalah suatu hal yang baik, Islam juga mengajarkan untuk menonjolkan “kasih sayang” baik dengan sikap maupun sekedar ucapan.
Suatu ketika ada seorang sahabat berbicara pada Rasulullah SAW, ia memuji salah seorang temannya dihadapan Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW berkata: “Apa kamu menyukai temanmu itu?” Sahabat menjawab, “ya.” Rasulullah SAW bertanya lagi: “Apakah kamu pernah menyatakan rasa sukamu pada temanmu itu?” Sahabat menjawab, “tidak.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Pergilah, temuilah temanmu itu dan katakanlah bahwa engkau menyukainya.”
Riwayat ini menyimpulkan bahwa Islam juga mengajarkan agar kita membesar-besarkan ungkapan kasih sayang dengan ucapan, tidak cukup dengan sikap. Maka hal ini sangatlah mendukung upaya-upaya mengaplikasikan kasih sayang dengan seumpama “peringatan hari kasih sayang”. Namun apabila ummat islam bermaksud membuat “hari kasih sayang” maka hendaknya memilih nama dan hari yang memiliki kaitan dengan tokoh atau kejadian yang diagungkan Islam, bukan dengan memilih nama Valentine dan tanggal 14, karena nama dan tanggal itu adalah nama dan tanggal kematian tokoh Nasrani.
“Hari kasih sayang” Islam telah populer sejak tujuh abad yang silam
Alhamdulillah, ternyata kita ummat Islam tidak kalah dengan bangsa lain, kalau “hari kasih sayang” yang disebut Valentin baru beberapa tahun saja populer, maka kita memiliki peringatan “hari kasih sayang” yang telah populer sejak abad ke-7 Hijriyah, tujuh ratus tahun sang silam. Peringatan “hari kasih sayang” Islam dilakukan lebih meriah, peringatannya tidak hanya menggema dalam satu hari saja, melainkan meramaikan beberapa hari bahkan kadang lebih dari sebulan. Peringatan yang di maksudkan ini memang tidak disebut dengan nama “hari kasih sayang”, namun ketika ummat Islam membicarakan tentang “peringatan” ini maka bibir mereka tidak lepas dari membicarakan “kasih sayang”.
Peringatan yang di maksudkan itu adalah peringatan “Maulid Nabi”. Kita selalu menyebut Nabi Muhammad sebagai simbol “kasih sayang”, setiap penceramah dalam acara Maulid Nabi tidak ada yang melewatkan ayat yang menyatakan bahwa “tiadalah Muhammad selain wujud kasih sayang Allah bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin)”. Dalam acara Maulid itu kita bukan hanya membicarakan tentang kasih sayang secara simbolis, tapi kita membicarakan tentang kasih sayang lebih luas yang merupakan inti dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Dan peringatan “hari kasih sayang” Islam ternyata juga disebut dengan menggunakan tokoh, yaitu “Maulid Nabi Muhammad”. Kalau “pemilik Valentine” menganggap kita mengkait-kaitkan Maulid Nabi hanya untuk “merebut” peringatan “hari kasih sayang”, maka kenyataan membuktikan bahwa kita lebih berhak untuk mengklaim sebagai pencetus awal peringatan “hari kasih sayang”, karena peringatan Maulid Nabi pasti membicarakan tentang kasih sayang (rahmatan), dan peringatan Maulid Nabi telah populer jauh sebelum peringatan hari Valentine.
Ini adalah kenyataan bahwa kegiatan Maulid Nabi lebih banyak membicarakan tentang kasih sayang melalui Rasulullah SAW, dan Maulid nabi telah populer sejak tujuh ratus tahun yang silam, sehingga tidak mengada-ada kalau di katakan bahwa ummat Islam telah memperingati “hari kasih sayang” sejak jauh sebelum ummat Nasrani.

MAULID VS VALENTINE

Setiap agama mendoktrin pemeluknya agar taat beragama dan agar mempengaruhi sesama agamanya untuk taat beragama. Mengingat tahun ini (1433 H / 2012 M) ‘Asyura dan Valentine hanya selisih Sembilan hari, maka sudah tentu masing-masing ummat Islam dan Nasrani akan berusaha agar perayaan masing-masing meriah, sehingga bisa jadi akan terjadi semacam persaingan antara ummat Islam dan ummat Nasrani, masing-masing ingin perayaannya lebih meriah dari yang lain. Dalam hal ini, bahkan dalam segala hal, persaingan itu sah-sah saja, persaingan tidaklah buruk selama persaingan itu sehat, bersih dari tipu muslihat dan upaya-upaya keji. Setiap persaingan pasti berakhir dengan ada yang kalah dan ada yang menang. Maka yang menang bukan berarti merugikan atau menjatuhkan yang kalah, kemenangan akan dipuji selama kemenangan itu didapatkan secara sehat.
Dari itu, silahkan saja ummat Nasrani berusaha membesar-besarkan Valentine, berdakwah pada rekan-rekan seagama mereka untuk merayakan Valentine, bahkan tidak salah juga kalau umpama mereka berkata pada sesama Nasrani: “Rayakanlah Valentine, jangan kalah dengan ‘Asyura!” Itu hak beragama mereka, orang Islam tidak tersinggung dengan kalimat “jangan kalah dengan ‘Asyura”, karena itu sama dengan ucapan seorang ayah pada anaknya: “Belajarlah yang rajin, jangan kalah dengan si anu”. Kita semua pasti memaklumi bahwa kalimat seperti itu bukan untuk menjatuhkan anak orang lain, tapi untuk memberi semangat anak sendiri.
Maka sebagai muslim taat (insyaallah), kami juga akan menggunakan hak kami untuk berdakwah dan memberi semangat pada sesama muslim, kamipun berkata: “Wahai kaum muslimin, rayakanlah Maulid, jangan kalah dengan Valentine! Kita selalu menggembar-gemborkan bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, tapi kenyataannya suara kita selalu ditelan suara paham dan budaya lain, tidak malukah kita kalau remaja-remaja muslim justru lebih mengenal Valentine daripada Maulid?! Maka marilah kita buat ‘Maulid sebagai topik hangat untuk kita bicarakan dalam minggu-minggu ini, buatlah sekeliling kita banyak menyebut Maulid. Di negara-negara barat Valentine boleh menang dan lebih populer daripada Maulid, tapi di nageri ini kita adalah mayoritas, maka sungguh kita ini akan menjadi “pecundang” bila di negeri ini Valentine lebih populer dari Maulid.”

Demikianlah, semoga tulisan ini dapat membuka cakrawala hati kita, kaum nuslimin dan kaum beragama yang lain, untuk lebih mengerti atau sadar tentang batas-batas toleransi dan bersaing dalam “dakwah keagamaan”.
Semoga shalawat-salam senantiasa tercurahkan pada Nabi Muhammad dan Nabi-nabi yang lain, termasuk Nabi ummat Nasrani (Isa) dan Nabi ummat Yahudi (Musa), juga segenap kerabat mereka, sahabat dan “ummat” mereka. Amien.
  likes this.
khalifah
saya selalu menyebut 14 feb sbg valentine die. Tetapi bkn lantaran krn saya pahami seperti tlsan anda di atas. Tetapi lbh karena, sy suka melawan arus.apalagi jika itu brtentangan dgn pribadi saya. Knp, menrt hemat saya terlalu naif jika kasih syg harus di simbolkan sdemikian rupa. Terlalu jengah ka...
Captcha Challenge
Reload Image
Type in the verification code above